Sudah seminggu lebih evakuasi korban robohnya musholla di Ponpes Al Khoziny Buduran Sidoarjo. Sudah banyak korban. Sudah banyak tangisan. Pun banyak pula pihak yang menyalahkan.
Bagi santri, musibah ini adalah duka bersama. Bukan hanya duka korban, pengasuh, pengurus pesantren Ponpes Al Khoziny, tetapi duka semua pesantren seluruh Indonesia.
Dalam kultur pesantren, semua santri adalah saudara. Tidak melihat dari mana asal mereka, atau status sosial mereka. Ketika saya bertemu orang yang bersarung di mana saja, saya seringkali bertanya, santri mana?
Suasana langsung cair, dan keasingan berubah menjadi keakraban ketika tau dia adalah santri. Apalagi santri dari pondok pesantren yang sama. Lalu kami mengajak ngobrol basa-basi ala pesantren. Kadang guyon. Dan itulah khas kami sebagai santri.
Ketika santri Ponpes Al Khoziny mengalami musibah besar, maka betapa hati ini ikut hancur. Kasihan mereka yang menjadi korban. Kasihan keluarga korban. Kasihan pengasuhnya juga, yang pasti sangat terpukul dengan musibah ini.
Tidak ada niat seorang kyai menjerumuskan santrinya. Tidak mungkin dengan sengaja pengasuh pesantren mengatakan, "Bangunkan gedung dengan pondasi rapuh, biar nanti santri ku tewas saat bangunan itu roboh."
Kyai adalah orang biasa dalam urusan arsitektur. Kyai tidak kompeten dalam urusan bangun-membangun gedung. Tapi Kyai adalah spesialis. Spesialis membangun akhlak, jiwa, dan nilai keimanan.
Maka, ketika bangunan pondok roboh jangan salahkan Kyai yang tidak tahu apa-apa. Tanyakan pada arsiteknya. Tanyakan tukangnya. Merekalah yang bertanggung jawab.
Jika suatu saat nanti Pondok ini diminta ditutup karena aduan masyarakat terkait bangunan yang tidak layak, atau masyarakat meminta penanggung jawab untuk membangun lagi, pesantren lainnya insyaallah siap menyumbang untuk pembangunan yang lebih layak.
Komentar
Posting Komentar