Langsung ke konten utama

Hilangnya Kenangan - Cerita Hudaifi

Setiap menit adalah kenangan. Ketika saya melakukan sesuatu yang sepertinya tidak memiliki nilai apa-apa, tindakan ini adalah kenangan. 

Misalnya saya makan. Sepertinya makanannya terlalu asin, karena saya memberinya garam berlebihan. Ini akan menjadi kenangan, sejarah kecil agar saya memperbaikinya jika saya harus masak lagi. 

Banyak sekali perilaku yang telah menjadi pelajaran sebenarnya, tetapi kita lupa mendokumentasikannya. Lupa menjelaskan apa yang salah. Akhirnya kesalahan terus berulang-ulang di masa yang akan datang.

Maka, saya kira penting menuliskan pengalaman. Terutama pengalaman negatif. Agar jadi pelajaran berharga di masa ketika kita membutuhkan untuk memperbaiki diri.

Orang Indonesia rata-rata adalah tidak mengerti literasi. Tidak banyak membaca, sehingga tidak bisa menuliskan kata-kata. Tidak banyak menulis, sehingga banyak kenangan hilang.

Sungguh jika kenangan itu adalah kebiasaan harian, maka itu tidaklah masalah. Namun jika yang hilang adalah penemuan dari hasil olah pikiran, maka itu sungguh sangat disayangkan. 

Maka dari itu, cobalah mulai sekarang biasakan menyimpulkan kenangan. Silahkan buat videonya atau sekedar foto. Tetapi yang paling penting adalah tulisan. Karena perasaan, pikiran, tidak mungkin bisa kita abadikan menggunakan kamera DSLR pun. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memulai Dari Nol - Cerita Hudaifi

Cerita Hudaifi - Hari ini saya memulai dari nol. Apanya? Membuat blog dan menulis untuk mengisinya. Sudah berkali-kali saya bikin blog. Lalu mati karena tidak tahu mau diarahkan ke mana. Saya ingin memulai ngeblog lagi dari awal. Ingin menulis lagi. Karena saya suka menulis. Dulu. Sebelum berkeluarga. Dan keterampilan itu hilang setelah istri setiap hari nyuruh saya cari duit, nyuci baju, momong anak, bersih-bersih rumah, dan nganterin beli jajan..😂 Di blog ini, saya ingin mengasah skil menulis saya yang mulai tumpul. Saya ingin menulis di sini. Menulis apa saja. Entah itu ilmu, opini, aktivitas sehari-hari, dan perasaan. Sebulan lalu saya menulis diary di buku. Tentang perasaan. Rasa malas, sedih, tertekan, dan harapan. Semua rasa itu membuat saya tidak bisa produktif: malas ngajar, malas ngonten, malas beribadah, dan lain-lain. Alhamdulillah , setelah menyalurkan isi hati lewat tulisan dengan jujur, hati jadi plong. Semangat untuk produktif tumbuh lagi.  Berkaca dari itu, saya i...

Selamat datang di blog saya, Cerita Hudaifi

Selamat datang di blog saya: Cerita Hudaifi Blog ini lahir dari kegelisahan sederhana: terlalu banyak cerita di kepala, tapi memori HP penuh. Jadi, saya pindahkan ke sini. Saya seorang penulis. Kadang serius, kadang lebay. Kadang juga nulis sambil rebahan, karena konon ide bagus suka datang pas badan malas bergerak. Saya juga seorang minimalis. Jangan salah paham. Minimalis bukan berarti dompet tipis. Beda. Minimalis itu seni punya barang secukupnya, biar hidup nggak ribet. Walau, ya, dompet tipis kadang memang ikut mendukung gaya hidup ini. Dan ya, saya suka curhat. Kalau orang lain curhat di status WhatsApp, saya pilih curhat di blog. Lebih lega. Lebih panjang. Lebih bisa dihapus kalau malu. Isi blog ini? Campur-campur. Ada cerita sehari-hari. Ada renungan hidup. Ada humor receh. Semua ditulis dengan gaya santai, seolah-olah kita lagi ngobrol sambil ngopi. Jadi, kalau Anda betah di sini, anggap saja kita sudah teman lama. Kalau tidak betah… ya, jangan pergi dulu. Siapa tahu besok say...

Duka Al Khoziny duka semua pesantren

 Sudah seminggu lebih evakuasi korban robohnya musholla di Ponpes Al Khoziny Buduran Sidoarjo . Sudah banyak korban. Sudah banyak tangisan. Pun banyak pula pihak yang menyalahkan. Bagi santri , musibah ini adalah duka bersama. Bukan hanya duka korban, pengasuh, pengurus pesantren Ponpes Al Khoziny, tetapi duka semua pesantren seluruh Indonesia.  Dalam kultur pesantren , semua santri adalah saudara. Tidak melihat dari mana asal mereka, atau status sosial mereka. Ketika saya bertemu orang yang bersarung di mana saja, saya seringkali bertanya, santri mana? Suasana langsung cair, dan keasingan berubah menjadi keakraban ketika tau dia adalah santri. Apalagi santri dari pondok pesantren yang sama. Lalu kami mengajak ngobrol basa-basi ala pesantren. Kadang guyon. Dan itulah khas kami sebagai santri.  Ketika santri Ponpes Al Khoziny mengalami musibah besar, maka betapa hati ini ikut hancur. Kasihan mereka yang menjadi korban. Kasihan keluarga korban. Kasihan pengasuhnya juga, ya...