Langsung ke konten utama

Ikut Majelis Arridwan, Ini Pesan Habib Jamal - Cerita Hudaifi

Saya ikut majlis Arridwan, Senin, 8 September 2025 di sepanjang Jalan Kyai Parseh, Bumiayu. Saya bersama istri dan anak. Naik motor ke sana. Karena tidak punya mobil. Sehingga kedinginan saat terkena angin malam. 

Habis sholat isya saya berangkat. Terburu-buru. Padahal gak ada ketentuan waktu. Tapi, ya begitulah. Saya bisa apa kalau istri nyuruh saya buru-buru. Seperti memburu sesuatu.

Sampai di sana ternyata memang se ramai itu. Pantas istri ngajak buru-buru. Jika tidak, maka tidak kebagian tempat di depan. Untungnya ada Ayu. Dia teman istri saya. Yang sejak sebelum isya' sudah dekosin tempat, agar tidak ditempati yang lain. 

Cowok cewek di majlis Ar ridwan harus pisah. Maka saya pisah. Istri duduk di paling depan dekat layar proyektor. Saya duduk paling belakang dari panggung, pas sebelum proyektor. Bisa bayangkan gak posisi saya dengan istri? Simpelnya, saya dan istri duduk bersebelahan. Saya di utaranya layar proyektor, istri di selatannya. 

Anak saya Zaki, yang paling kecil, digendong istri. Sementara Zakhwan, yang tertua dipangku saya. Umurnya masih 3 tahunan. Dan lumayan berat juga jika dipangku. Tapi mau bagaimana lagi, tidak ada tempat untuk duduk sendiri. Biarlah saya yang capek. 

Ketika kami sampai di lokasi, sholawat Dhiyaul Lami' sedang dibaca, dilantunkan oleh para vokalis. Enak dengarnya. Tentrem hati ini. Dhiyaul Lami' adalah kitab sejarah maulid dan sholawat yang dikarang oleh Habib Umar bin Hafidz, Hadramaut.

Dulu, di Sidogiri, sholawat Dhiyaul Lami' dibaca sebulan sekali, bergantian dengan maulid Simtudduror, Ad Diba', Al Barzanji, dan Syaroful Anam. Senang sekali mendengarnya lagi di sini, di Kota Malang, tempat istri saya tinggal. 

Beberapa sholawat dilantunkan hingga Zakhwan tertidur pulas. Bahkan hingga Mahallul Qiyam. Di mana saya mau gak mau harus gendong. Sampai dia terbangun dengan sendirinya saat melihat flare disulut di depan kami.

Ini majlis sholawat. Tapi kok ada flare, kayak di pertandingan sepak bola? Juga ada bendera besar-besar seperti bendera perang jaman dulu. Tapi tulisannya semuanya sama: Arridwan. Saya risih dengan bendera ini. Karena saat berkibar mengenai muka. Tongkatnya juga mengenai kepala. Ah, bangsat tukang pengibarnya!

Setelah beberapa kali mengenai kepala belakang, pengibarnya tersenyum. Lalu tanya, "Pak, sampean masih ngajar di MTs?"

Lama kutatap wajahnya menebak-nebak siapa dia. Lalu dia ngaku, "Saya Slamet. Murid jenengan dulu." Saya kaget, ternyata dia. Tapi sialan. Kelakuan jailnya dari dulu pancet saja tidak berubah. Tapi baguslah, sekarang sudah senang ikut majelisan. Dulunya dia nakal sekali. Suka bolos sekolah, ganggu temannya, ucapannya ceplas-ceplos dan kasar, dan lain sebagainya. 

Alhamdulillah, sepertinya sekarang dia sudah berubah. Senang sholawatan. Dengar pengajian. Meskipun tindik di telinganya masih belum dibuang.

Dia dulu berhenti sekolah gara-gara orang tuanya meninggal. Ayahnya. Lalu dia menggantikan pekerjaan ayahnya di pasar sebagai kuli. Dia nguliti kelapa di pasar dan dibayar 50 ribu. Dia tulang punggung keluarga sekarang. Di usianya yang belum genap 20an. Kasian sekali.

Setelah mahallul qiyam, lalu habib Jamal mulai ceramah singkat. Tapi padat. Intinya kita harus sering-sering berkumpul dengan orang sholeh. Agar hati tidak mati. Harus rendah hati, jangan sombong. Bahwa memperingati kelahiran Nabi itu bukan bid'ah. Yang kita rayakan bukan hari kelahirannya saja. Tapi lahirnya Nabi itu sendiri. Sehingga tidak terbatas waktu. 

Ceramah yang kedua disampaikan oleh Habib Ahmad bin Hasan bin Ahmad Al Habsyi, dari Oman. Beliau juga merupakan murid Habib Umar. Tapi dia dokter. Sehingga belajarnya dari Habib Umar lebih banyak lewat streaming.

Beliau menyampaikan rasa bangganya terhadap adanya Majlis Arridwan ini. Termasuk anak-anak muda yang suka bawa bendera dan membakar flare. Yang kata saya sangat mengganggu. Kata beliau, mereka adalah pecinta nabi. Tapi cara mengekspresikannya dengan cara-cara yang biasa mereka lakukan saat di stadion. Ini cinta yang otentik, kata beliau.

Ah, banyak sekali yang beliau sampaikan. Tidak sempat kutulis semua. Karena sambil mangku anak yang baru bangun tidur. 

Acara selesai jam 10 malam. Alhamdulillah. Tidak seperti majlisan lain yang kadang sampai larut malam baru selesai. Saya harus pulang. Ini perut juga lapar. Maka saya berhenti di warung nasi goreng. Beli nasgor dan dibawa pulang untuk dimakan di rumah. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memulai Dari Nol - Cerita Hudaifi

Cerita Hudaifi - Hari ini saya memulai dari nol. Apanya? Membuat blog dan menulis untuk mengisinya. Sudah berkali-kali saya bikin blog. Lalu mati karena tidak tahu mau diarahkan ke mana. Saya ingin memulai ngeblog lagi dari awal. Ingin menulis lagi. Karena saya suka menulis. Dulu. Sebelum berkeluarga. Dan keterampilan itu hilang setelah istri setiap hari nyuruh saya cari duit, nyuci baju, momong anak, bersih-bersih rumah, dan nganterin beli jajan..😂 Di blog ini, saya ingin mengasah skil menulis saya yang mulai tumpul. Saya ingin menulis di sini. Menulis apa saja. Entah itu ilmu, opini, aktivitas sehari-hari, dan perasaan. Sebulan lalu saya menulis diary di buku. Tentang perasaan. Rasa malas, sedih, tertekan, dan harapan. Semua rasa itu membuat saya tidak bisa produktif: malas ngajar, malas ngonten, malas beribadah, dan lain-lain. Alhamdulillah , setelah menyalurkan isi hati lewat tulisan dengan jujur, hati jadi plong. Semangat untuk produktif tumbuh lagi.  Berkaca dari itu, saya i...

Selamat datang di blog saya, Cerita Hudaifi

Selamat datang di blog saya: Cerita Hudaifi Blog ini lahir dari kegelisahan sederhana: terlalu banyak cerita di kepala, tapi memori HP penuh. Jadi, saya pindahkan ke sini. Saya seorang penulis. Kadang serius, kadang lebay. Kadang juga nulis sambil rebahan, karena konon ide bagus suka datang pas badan malas bergerak. Saya juga seorang minimalis. Jangan salah paham. Minimalis bukan berarti dompet tipis. Beda. Minimalis itu seni punya barang secukupnya, biar hidup nggak ribet. Walau, ya, dompet tipis kadang memang ikut mendukung gaya hidup ini. Dan ya, saya suka curhat. Kalau orang lain curhat di status WhatsApp, saya pilih curhat di blog. Lebih lega. Lebih panjang. Lebih bisa dihapus kalau malu. Isi blog ini? Campur-campur. Ada cerita sehari-hari. Ada renungan hidup. Ada humor receh. Semua ditulis dengan gaya santai, seolah-olah kita lagi ngobrol sambil ngopi. Jadi, kalau Anda betah di sini, anggap saja kita sudah teman lama. Kalau tidak betah… ya, jangan pergi dulu. Siapa tahu besok say...

Duka Al Khoziny duka semua pesantren

 Sudah seminggu lebih evakuasi korban robohnya musholla di Ponpes Al Khoziny Buduran Sidoarjo . Sudah banyak korban. Sudah banyak tangisan. Pun banyak pula pihak yang menyalahkan. Bagi santri , musibah ini adalah duka bersama. Bukan hanya duka korban, pengasuh, pengurus pesantren Ponpes Al Khoziny, tetapi duka semua pesantren seluruh Indonesia.  Dalam kultur pesantren , semua santri adalah saudara. Tidak melihat dari mana asal mereka, atau status sosial mereka. Ketika saya bertemu orang yang bersarung di mana saja, saya seringkali bertanya, santri mana? Suasana langsung cair, dan keasingan berubah menjadi keakraban ketika tau dia adalah santri. Apalagi santri dari pondok pesantren yang sama. Lalu kami mengajak ngobrol basa-basi ala pesantren. Kadang guyon. Dan itulah khas kami sebagai santri.  Ketika santri Ponpes Al Khoziny mengalami musibah besar, maka betapa hati ini ikut hancur. Kasihan mereka yang menjadi korban. Kasihan keluarga korban. Kasihan pengasuhnya juga, ya...