Langsung ke konten utama

Ini alasan saya suka membaca nyaring

Saya senang membaca nyaring. Setiap kali ada kesempatan membaca buku di rumah, saya berusaha baca teks bacaan dengan nyaring. Apa alasannya? 

Ternyata membaca nyaring membantu saya pelan-pelan menghilangkan kebiasaan belibet saat bicara. Secara tidak langsung, membaca nyaring membantu saya meningkatkan kemampuan publik speaking. 

Metode ini saya temukan di buku The Read-Aloud Handbook karya Jim Trelease. Juga dalam buku Free Writing karya Hernowo. Kedua buku ini, salah satu poin utamanya adalah mendorong pembiasan membaca nyaring untuk menguatkan artikulasi bicara. 

Poin yang lain dari buku ini, dan ini yang paling pokok, adalah mengajak kita untuk sesering mungkin membacakan buku pada anak. Meskipun anak MASIH BELUM BISA BICARA. 

Buku ini membuka mata saya, bahwa membaca buku dengan nyaring kepada anak ternyata punya kekuatan yang luar biasa.
Bukan hanya tentang mengeja huruf atau mengenali kata, tapi ini lebih tentang membangun jembatan emosional dengan anak. 

Jim Trelease meyakinkan saya, bahwa pengalaman pertama anak dengan membaca itu sangat penting. Jika kita membuatnya terasa menyenangkan, anak akan jatuh cinta pada buku. Sebaliknya, jika kita paksakan dan membuatnya jadi membosankan, mungkin anak hanya akan membaca karena terpaksa.

Saya jadi sadar, fondasi pendidikan terbaik itu dimulai dari rumah, bukan hanya dari sekolah. Dengan membacakan buku, kita bukan cuma memperkaya kosakata anak, tapi juga mengasah otaknya. Suara kita sebagai orangtua, ternyata punya peranan besar dalam membangun koneksi di otak anak.

Jadi, jangan pernah merasa terlambat untuk memulai. Setiap malam, luangkan waktu sebentar saja. Ambil buku favorit anak, dan mulailah membacakannya. Percayalah, momen itu akan jadi kenangan manis yang tak terlupakan bagi Anda dan si kecil.

Dan, nasihat ini saya selalu lakukan belakangan ini. Sebelum anak tertidur, saya selalu bercerita. Biasanya tentang hewan seperti kupu-kupu, kucing, laba-laba, dan lain-lain. Terbukti, kemampuan bicara anak saya terus meningkat. 

Di usianya yang ketiga tahun ini, dia bukan cuma bisa bicara, tapi sudah bisa menceritakan perasaannya. Bicaranya pun sudah mulai teratur. Kekurangannya, dia belum fasih melafalkan huruf 'R'.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memulai Dari Nol - Cerita Hudaifi

Cerita Hudaifi - Hari ini saya memulai dari nol. Apanya? Membuat blog dan menulis untuk mengisinya. Sudah berkali-kali saya bikin blog. Lalu mati karena tidak tahu mau diarahkan ke mana. Saya ingin memulai ngeblog lagi dari awal. Ingin menulis lagi. Karena saya suka menulis. Dulu. Sebelum berkeluarga. Dan keterampilan itu hilang setelah istri setiap hari nyuruh saya cari duit, nyuci baju, momong anak, bersih-bersih rumah, dan nganterin beli jajan..😂 Di blog ini, saya ingin mengasah skil menulis saya yang mulai tumpul. Saya ingin menulis di sini. Menulis apa saja. Entah itu ilmu, opini, aktivitas sehari-hari, dan perasaan. Sebulan lalu saya menulis diary di buku. Tentang perasaan. Rasa malas, sedih, tertekan, dan harapan. Semua rasa itu membuat saya tidak bisa produktif: malas ngajar, malas ngonten, malas beribadah, dan lain-lain. Alhamdulillah , setelah menyalurkan isi hati lewat tulisan dengan jujur, hati jadi plong. Semangat untuk produktif tumbuh lagi.  Berkaca dari itu, saya i...

Selamat datang di blog saya, Cerita Hudaifi

Selamat datang di blog saya: Cerita Hudaifi Blog ini lahir dari kegelisahan sederhana: terlalu banyak cerita di kepala, tapi memori HP penuh. Jadi, saya pindahkan ke sini. Saya seorang penulis. Kadang serius, kadang lebay. Kadang juga nulis sambil rebahan, karena konon ide bagus suka datang pas badan malas bergerak. Saya juga seorang minimalis. Jangan salah paham. Minimalis bukan berarti dompet tipis. Beda. Minimalis itu seni punya barang secukupnya, biar hidup nggak ribet. Walau, ya, dompet tipis kadang memang ikut mendukung gaya hidup ini. Dan ya, saya suka curhat. Kalau orang lain curhat di status WhatsApp, saya pilih curhat di blog. Lebih lega. Lebih panjang. Lebih bisa dihapus kalau malu. Isi blog ini? Campur-campur. Ada cerita sehari-hari. Ada renungan hidup. Ada humor receh. Semua ditulis dengan gaya santai, seolah-olah kita lagi ngobrol sambil ngopi. Jadi, kalau Anda betah di sini, anggap saja kita sudah teman lama. Kalau tidak betah… ya, jangan pergi dulu. Siapa tahu besok say...

Duka Al Khoziny duka semua pesantren

 Sudah seminggu lebih evakuasi korban robohnya musholla di Ponpes Al Khoziny Buduran Sidoarjo . Sudah banyak korban. Sudah banyak tangisan. Pun banyak pula pihak yang menyalahkan. Bagi santri , musibah ini adalah duka bersama. Bukan hanya duka korban, pengasuh, pengurus pesantren Ponpes Al Khoziny, tetapi duka semua pesantren seluruh Indonesia.  Dalam kultur pesantren , semua santri adalah saudara. Tidak melihat dari mana asal mereka, atau status sosial mereka. Ketika saya bertemu orang yang bersarung di mana saja, saya seringkali bertanya, santri mana? Suasana langsung cair, dan keasingan berubah menjadi keakraban ketika tau dia adalah santri. Apalagi santri dari pondok pesantren yang sama. Lalu kami mengajak ngobrol basa-basi ala pesantren. Kadang guyon. Dan itulah khas kami sebagai santri.  Ketika santri Ponpes Al Khoziny mengalami musibah besar, maka betapa hati ini ikut hancur. Kasihan mereka yang menjadi korban. Kasihan keluarga korban. Kasihan pengasuhnya juga, ya...