Langsung ke konten utama

Saya tidak mau kuliah part #1 - Cerita Hudaifi


Juni, 2021 lalu, saya diminta ngajar di Annur 1 oleh Gus Anwarul Asror. Beliau kenalan saya dulu di pondok. Dan alhamdulillah saya dipertemukan lagi dengan beliau setelah saya memutuskan mukim di Malang.

Saya diminta ngajar karena beliau melihat saya tidak punya kegiatan. Bayangkan, 2 bulan menikah tapi belum punya kegiatan (pekerjaan). Di rumah hanya mondar-mandir: ke dapur, kamar, toilet, dan pergi njajan menghabiskan sisa uang bowoan.

Di bulan Juli itu, uang saya benar-benar habis. Pekerjaan tidak punya. Motor tidak punya. Saya berangkat ngajar naik ojol. Setiap hari. Seminggu setelah itu, saya diantar jemput oleh pengurus yang suka ngebut: Hulul Futuhul Hannan. 

Tidak lama kemudian, Gus Asror (begitu saya memanggilnya), meminjamkan motor untuk saya gunakan sebebas-bebasnya; untuk ngajar, jalan-jalan, dan lain-lain. Ribuan terimakasih saya haturkan kepada beliau atas kebaikannya.

Sekitar satu minggu saya ngajar, Mudir pondok ngajak saya kuliah. Hah? Kuliah? 

Saya tidak mau kuliah. Saat mondok dulu, saya terdoktrin anti kuliah. Guru saya, KHA. Nawawi Abdul Jalil tidak setuju jika di pondok ada kuliah. Karena dawuh beliau, "Kalau belajar ilmu agama kok campur laki-laki perempuan, maka ilmunya tidak akan bermanfaat."

Waktu itu, kampus-kampus rata-rata memang jarang yang menerapkan larangan berbaur laki-perempuan. Maba, ospek, kerja kelompok, PMII, hingga KKN, manakah di antara kegiatan itu yang melarang kumpul laki-perempuan? Bahkan sekelas Ma'had Aly sekalipun! 

Doktrin itu membuat saya anti kuliah.

Namun pada malam itu, Ust. Nastain dan Gus Asror duduk bersama. Ngajak saya kuliah. "Saya mau mendirikan Ma'had Aly di sini, sampeyan jadi Mahasantri angkatan pertamanya," dawuh Gus Asror. "Besok saya mau minta tandatangan ke Menteri Agama, mumpung beliaunya masih di Jawa Timur," lanjutnya. 

Di sofa kantor diniyah yang mulai lusuh itu, Gus Asror merayu saya untuk kuliah. "Nanti sistemnya seperti pondok. Dan buat sampeyan, wes cukup nitip nama saja. Kan enak, tau-tau nanti sudah punya gelar S.Ag," kelakar beliau.

Saya ikut tersenyum sambil melamun. "Wah, kalau tidak usah masuk langsung dapat gelar, kayaknya saya juga mau," batin saya. Akhirnya saya iyakan saja ajakannya.

Sesampainya di rumah, saya minta persetujuan istri. Awalnya gak setuju. Tapi setelah saya ceritakan mekanismenya, dia setuju. "Yopo nanti kalau sudah wisuda, malah bawa anak..hhh," kelakarnya.

Saya tersenyum saja. Semoga jadi kenyataan. Bersambung... 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memulai Dari Nol - Cerita Hudaifi

Cerita Hudaifi - Hari ini saya memulai dari nol. Apanya? Membuat blog dan menulis untuk mengisinya. Sudah berkali-kali saya bikin blog. Lalu mati karena tidak tahu mau diarahkan ke mana. Saya ingin memulai ngeblog lagi dari awal. Ingin menulis lagi. Karena saya suka menulis. Dulu. Sebelum berkeluarga. Dan keterampilan itu hilang setelah istri setiap hari nyuruh saya cari duit, nyuci baju, momong anak, bersih-bersih rumah, dan nganterin beli jajan..😂 Di blog ini, saya ingin mengasah skil menulis saya yang mulai tumpul. Saya ingin menulis di sini. Menulis apa saja. Entah itu ilmu, opini, aktivitas sehari-hari, dan perasaan. Sebulan lalu saya menulis diary di buku. Tentang perasaan. Rasa malas, sedih, tertekan, dan harapan. Semua rasa itu membuat saya tidak bisa produktif: malas ngajar, malas ngonten, malas beribadah, dan lain-lain. Alhamdulillah , setelah menyalurkan isi hati lewat tulisan dengan jujur, hati jadi plong. Semangat untuk produktif tumbuh lagi.  Berkaca dari itu, saya i...

Selamat datang di blog saya, Cerita Hudaifi

Selamat datang di blog saya: Cerita Hudaifi Blog ini lahir dari kegelisahan sederhana: terlalu banyak cerita di kepala, tapi memori HP penuh. Jadi, saya pindahkan ke sini. Saya seorang penulis. Kadang serius, kadang lebay. Kadang juga nulis sambil rebahan, karena konon ide bagus suka datang pas badan malas bergerak. Saya juga seorang minimalis. Jangan salah paham. Minimalis bukan berarti dompet tipis. Beda. Minimalis itu seni punya barang secukupnya, biar hidup nggak ribet. Walau, ya, dompet tipis kadang memang ikut mendukung gaya hidup ini. Dan ya, saya suka curhat. Kalau orang lain curhat di status WhatsApp, saya pilih curhat di blog. Lebih lega. Lebih panjang. Lebih bisa dihapus kalau malu. Isi blog ini? Campur-campur. Ada cerita sehari-hari. Ada renungan hidup. Ada humor receh. Semua ditulis dengan gaya santai, seolah-olah kita lagi ngobrol sambil ngopi. Jadi, kalau Anda betah di sini, anggap saja kita sudah teman lama. Kalau tidak betah… ya, jangan pergi dulu. Siapa tahu besok say...

Duka Al Khoziny duka semua pesantren

 Sudah seminggu lebih evakuasi korban robohnya musholla di Ponpes Al Khoziny Buduran Sidoarjo . Sudah banyak korban. Sudah banyak tangisan. Pun banyak pula pihak yang menyalahkan. Bagi santri , musibah ini adalah duka bersama. Bukan hanya duka korban, pengasuh, pengurus pesantren Ponpes Al Khoziny, tetapi duka semua pesantren seluruh Indonesia.  Dalam kultur pesantren , semua santri adalah saudara. Tidak melihat dari mana asal mereka, atau status sosial mereka. Ketika saya bertemu orang yang bersarung di mana saja, saya seringkali bertanya, santri mana? Suasana langsung cair, dan keasingan berubah menjadi keakraban ketika tau dia adalah santri. Apalagi santri dari pondok pesantren yang sama. Lalu kami mengajak ngobrol basa-basi ala pesantren. Kadang guyon. Dan itulah khas kami sebagai santri.  Ketika santri Ponpes Al Khoziny mengalami musibah besar, maka betapa hati ini ikut hancur. Kasihan mereka yang menjadi korban. Kasihan keluarga korban. Kasihan pengasuhnya juga, ya...