Langsung ke konten utama

Saya tidak mau kuliah part #3 - Cerita Hudaifi


Sejak semester 6, Pak Tain menyuruh saya untuk membuat ringkasan kitab ilmu badi'. Saya laksanakan. Dan selesai. Namun setelah diserahkan, beliaunya minta saya untuk menulis ulang dan memperbanyak referensi sebagai bahan tugas akhir kuliah.

Tak semudah yang kubayangkan. Menulis skripsi dengan bahasa Arab ternyata penuh tantangan. 

Tantangan pertama tentu saja harus memahami sumbernya dulu yang juga bahasa Arab. Tantangan kedua, saya harus mengubah apa yang saya pahami dari sumbernya, menjadi bahasa Arab yang lebih mudah. Dan ini dibutuhkan keluasan diksi.

Tantangan ketiga datang dari saya sendiri. Karena anak kedua baru lahir. Dan tentu harus lebih banyak menemani istri. Bantu momong, mandiin, memperhatikan kakaknya yang sudah mulai suka caper.

Tantangan ketiga adalah perangkat. Laptop saya rusak. Saya harus pinjam laptop milik kepala sekolah tempat saya ngajar. Itupun rusak dua kali karena dirusak anak pertama saya.

Akhirnya risalah tidak selesai-selesai hingga waktu seminar proposal tinggal 1 minggu. Selama seminggu itu saya begadang, menyelesaikan risalah. Sampai mata ini kelelahan.

Saat seminar proposal itu, tulisan saya masih dapat 70 persen. Itupun belum editing. Selesai sempro, saya ditelfon oleh Pak Idris, "Seminggu lagi harus selesai dan sidang skripsi."

Ya Tuhan, belum sembuh capek mempersiapkan sempro sudah diminta sidang. Kepala seperti mau meledak. Belum lagi istri ngomel-ngomel karena biaya wisuda menguras rekening. 

Hari Senin itu, sidang akhir berlangsung. Lama sekali. Dari dzuhur hingga jam 5 sore. Saya sidang bersama Nabil. Hanya berdua waktu itu. Tapi paling bergengsi. Karena pengujinya Prof. Dr. Fauzan Zenrif, M.Ag, Guru Besar di UIN Malang, dibarengi Gus Fatih, Lc, M. Ag dan Mudier Mahad Aly. 

Dagdigdug hati saya tidak karuan. Dan pertanyaan pak profesor membuat saya tidak bisa berkutik. Diam mampu menjawab. Hingga akhirnya banyak sekali yang perlu direvisi dari tugas akhir saya. 

Tidak sampai sebulan, Pak Idris menelpon saya lagi. Meminta agar segera merevisi risalah. Pikiran sumpek lagi. Karena ternyata flashdisk tempat menyimpan file risalah rusak tidak bisa dibuka. Satu-satunya file yang tersisa di hp hanya file PDF, yang jika dikonversi pasti rusak tata letaknya. 

Akhirnya mencoba menulis ulang di 3 hari menjelang deadline. Pak Idris minta hari Kamis sudah harus selesai dicetak. Sementara, flashdisk masih belum bisa. Malam itu saya menulis ulang. Namun, lagi-lagi ada masalah. Laptop yang dipakai error. Sign out sendiri. Saat dibuka, file yang sudah ditulis hilang. 

Pak Idris nelpon berkali-kali sejak selasa malam. Ngchatt juga berkali-kali. Tapi tidak dibalas. HP tak biarkan senyap. Karena saya gak tau mau jawab apa. Pikiran blank.

Mungkin karena tidak dibales lama, beliau akhirnya putus asa. Tak lagi nelpon. Tak ngechat lagi. Seperti sudah tak ada harapan. Tak ada kesempatan.

Saya pikir, oh berarti urusan sudah selesai. Karena Pak Idris sudah tak ngerayu lagi agar saya segera menyelesaikan tevisi. Saya pun merasa sedikit santai. 

Pagi-pagi, setelah nyuci piring, nyuci baju, dan lain sebagainya, berangkatlah saya ke Gondanglegi. Khataman bareng teman-teman FTASS. Bawa anak 1 biar istri gak repot momong. Berada di luar rumah bagi saya adalah kesempatan untuk me time. Saya jadi lebih banyak melamun, seandainya dan seandainya. 

Tiba-tiba, notifikasi itu datang lagi. "Hari Kamis harus selesai cetak". Saya menghembuskan napas panjang. Entahlah. Sementara keadaan masih sama: file risalah hilang, flashdisk rusak, laptop error.

Dzuhur saya pulang. Tiba-tiba anak sakit. Istri juga ngomel-ngomel. "Katanya wisudanya Sabtu, kok diundur jadi Minggu?"

Sejak sebulan lalu, istri memang sudah berencana hadir di acara Ustadzah Halimah Alaydrus di UMM. Bahkan rela mantengin website nawakhijrah sejak pagi agar tidak kehabisan kuota saat pendaftaran. Ketika, tau acara wisuda barengan, istri nangis. Dilema, antara ikut pengajian yg adanya setahun sekali itu, atau barengi saya wisuda. 

Saya diem saja. Berpikir keras mencari solusinya, sembari memikirkan notifikasi dari pak Idris. Lama sekali merenung. Sampai tidak terasa waktu sudah sore. Anak masih rewel. Istri juga sama rewelnya. "Kapan saya punya waktu untuk revisi?" batinku. 

Akhirnya istri mau ngalah setelah saya ajak njajan. Ia mau ikut wisuda. Tapi dengan syarat: habis wisuda harus staycation. Atau kalau nggak belikan emas lagi.. 😆

Waktu tinggal 1 malam dan saya pikir saya harus memberesi masalah revisi. Akhirnya, tadi malam saya coba sekali lagi. Agar fokus, ngajar saya tinggal. Jam sembilan setelah anak2 tidur, saya langsung garap. Seperti dari nol. Menulis ulang, revisi, edit tata letak, hingga menjelang subuh. Dan tertidur di saat layar HP masih memutar video instagram. Saya sempat scrolling sebelum tertidur. 

Habis subuh, gerimis kecil-kecil turun. Udara dingin sekali. Pengen melanjutkan editing. Tapi terbentur aktivitas: ke pasar belanja untuk acara tahlilan, masak, momong, ngajar mts, dll. Tapi alhamdulillah, pas di MTs ada jeda waktu di sela-sela istirahat, sehingga bisa ngedit.

Alhamdulillah, re writing plus revisi selesai asar tadi. Segera saya minta mas Agung buatkan cover. Hari itu saya langsung ke percetakan untuk mencetak risalah saya.

Hari wisuda tiba. Hari Minggu. Hari itu sangat sibuk sekali. Pagi-pagi jam 6, saya ngantar istri ikut pengajian Ustadzah Halimah Alaydrus. Jam 10 berangkat jemput pulang. Nyampek rumah dzuhur. 

Tidak sempat makan siang, saya langsung berangkat ke acara wisuda. Istri dan anak suruh berangkat belakangan karena masih capek. Dia baru berangkat jam 2 siang. Tanpa bawa anak paling kecil. 

Singkat cerita, wisuda berlangsung khidmat dan sampai asar. Setelah sesi foto-foto langsung pulang. Kasihan anak belum disayang. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memulai Dari Nol - Cerita Hudaifi

Cerita Hudaifi - Hari ini saya memulai dari nol. Apanya? Membuat blog dan menulis untuk mengisinya. Sudah berkali-kali saya bikin blog. Lalu mati karena tidak tahu mau diarahkan ke mana. Saya ingin memulai ngeblog lagi dari awal. Ingin menulis lagi. Karena saya suka menulis. Dulu. Sebelum berkeluarga. Dan keterampilan itu hilang setelah istri setiap hari nyuruh saya cari duit, nyuci baju, momong anak, bersih-bersih rumah, dan nganterin beli jajan..😂 Di blog ini, saya ingin mengasah skil menulis saya yang mulai tumpul. Saya ingin menulis di sini. Menulis apa saja. Entah itu ilmu, opini, aktivitas sehari-hari, dan perasaan. Sebulan lalu saya menulis diary di buku. Tentang perasaan. Rasa malas, sedih, tertekan, dan harapan. Semua rasa itu membuat saya tidak bisa produktif: malas ngajar, malas ngonten, malas beribadah, dan lain-lain. Alhamdulillah , setelah menyalurkan isi hati lewat tulisan dengan jujur, hati jadi plong. Semangat untuk produktif tumbuh lagi.  Berkaca dari itu, saya i...

Selamat datang di blog saya, Cerita Hudaifi

Selamat datang di blog saya: Cerita Hudaifi Blog ini lahir dari kegelisahan sederhana: terlalu banyak cerita di kepala, tapi memori HP penuh. Jadi, saya pindahkan ke sini. Saya seorang penulis. Kadang serius, kadang lebay. Kadang juga nulis sambil rebahan, karena konon ide bagus suka datang pas badan malas bergerak. Saya juga seorang minimalis. Jangan salah paham. Minimalis bukan berarti dompet tipis. Beda. Minimalis itu seni punya barang secukupnya, biar hidup nggak ribet. Walau, ya, dompet tipis kadang memang ikut mendukung gaya hidup ini. Dan ya, saya suka curhat. Kalau orang lain curhat di status WhatsApp, saya pilih curhat di blog. Lebih lega. Lebih panjang. Lebih bisa dihapus kalau malu. Isi blog ini? Campur-campur. Ada cerita sehari-hari. Ada renungan hidup. Ada humor receh. Semua ditulis dengan gaya santai, seolah-olah kita lagi ngobrol sambil ngopi. Jadi, kalau Anda betah di sini, anggap saja kita sudah teman lama. Kalau tidak betah… ya, jangan pergi dulu. Siapa tahu besok say...

Duka Al Khoziny duka semua pesantren

 Sudah seminggu lebih evakuasi korban robohnya musholla di Ponpes Al Khoziny Buduran Sidoarjo . Sudah banyak korban. Sudah banyak tangisan. Pun banyak pula pihak yang menyalahkan. Bagi santri , musibah ini adalah duka bersama. Bukan hanya duka korban, pengasuh, pengurus pesantren Ponpes Al Khoziny, tetapi duka semua pesantren seluruh Indonesia.  Dalam kultur pesantren , semua santri adalah saudara. Tidak melihat dari mana asal mereka, atau status sosial mereka. Ketika saya bertemu orang yang bersarung di mana saja, saya seringkali bertanya, santri mana? Suasana langsung cair, dan keasingan berubah menjadi keakraban ketika tau dia adalah santri. Apalagi santri dari pondok pesantren yang sama. Lalu kami mengajak ngobrol basa-basi ala pesantren. Kadang guyon. Dan itulah khas kami sebagai santri.  Ketika santri Ponpes Al Khoziny mengalami musibah besar, maka betapa hati ini ikut hancur. Kasihan mereka yang menjadi korban. Kasihan keluarga korban. Kasihan pengasuhnya juga, ya...