Langsung ke konten utama

Saya tidak mau kuliah part2 -Cerita Hudaifi


Setelah benar-benar masuk Ma'had Aly, beda lagi ceritanya. Yang katanya nitip nama saja, ini malah 1 minggu full tidak ada kata libur. Bahkan hari Jumat dan Minggu, tidak libur. Satu-satunya libur adalah saat tanggal merah.

Semester 1 saya lalui dengan sangat melelahkan. Karena setiap hari masuk. Setiap hari pula mondar-mandir ke Annur-Wonokoyo-rumah: kuliah-ngajar MTs-ngajar diniyah. Hingga pada akhirnya nyerah. 

Pagi-pagi ke Annur untuk nganter makanan untuk dijual di kantin pondok. Agak siang dikit ngajar di MTs Wonokoyo. Jam 10.00 kuliah sampai jam 13.00. Jam 4 ngajar Diniyah Annur. Malam habis isya' ngajar lagi di sini sampai jam setengah sembilan malam. Cukup melelahkan.

Semester kedua saya mengajukan berhenti. Terlalu sibuk. Apalagi saya mulai bekerja jadi konten writer di media online yang sehari dituntut menulis 10 artikel. Ditambah kadang masih disuruh antar jemput ponokan yang sekolah di Sawojajar. Yang jaraknya setengah jam dari rumah. 

Malam itu saya bicara dengan pak Tain. Izin berhenti. Namun tidak diperbolehkan. Sebagai gantinya, beliau meringankan beban kuliah saya. Saya boleh tidak masuk di matkul yang pernah saya pelajari dulu di pondok.

Saya juga pernah minta izin ke Kaprodi untuk mengundurkan diri. Tapi katanya, eman. Karena saya masih dibutuhkan. Dan benar. Saya tidak boleh keluar karena dijadikan alat untuk mendapatkan bantuan LPPD dari Pemprov Jawa Timur. Tapi gak apa-apa lah. No problem.semester

LPPD itu semacam bantuan beasiswa bagi orang yang baca kitabnya bagus dari Pemprov Jawa Timur. Di Ma'had Aly, bantuan LPPD itu disalurkan untuk kebutuhan operasional, sehingga secara tidak langsung membantu meringankan biaya kuliah yang lain.

Saat tes baca kitab dari lembaga pemberi beasiswa itu, saya lulus dan diundang Gubernur ke Surabaya bersama 10 Maha Santri lainnya untuk sosialisasi. Momen itu saya abadikan di sini: LPPD SURABAYA

Sejak saat itulah, saya mendapatkan keringanan tidak masuk kuliah. Bahkan nyaris tidak masuk kecuali untuk mengikuti ujian tengah semester dan akhir semester.

Bersambung... 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memulai Dari Nol - Cerita Hudaifi

Cerita Hudaifi - Hari ini saya memulai dari nol. Apanya? Membuat blog dan menulis untuk mengisinya. Sudah berkali-kali saya bikin blog. Lalu mati karena tidak tahu mau diarahkan ke mana. Saya ingin memulai ngeblog lagi dari awal. Ingin menulis lagi. Karena saya suka menulis. Dulu. Sebelum berkeluarga. Dan keterampilan itu hilang setelah istri setiap hari nyuruh saya cari duit, nyuci baju, momong anak, bersih-bersih rumah, dan nganterin beli jajan..😂 Di blog ini, saya ingin mengasah skil menulis saya yang mulai tumpul. Saya ingin menulis di sini. Menulis apa saja. Entah itu ilmu, opini, aktivitas sehari-hari, dan perasaan. Sebulan lalu saya menulis diary di buku. Tentang perasaan. Rasa malas, sedih, tertekan, dan harapan. Semua rasa itu membuat saya tidak bisa produktif: malas ngajar, malas ngonten, malas beribadah, dan lain-lain. Alhamdulillah , setelah menyalurkan isi hati lewat tulisan dengan jujur, hati jadi plong. Semangat untuk produktif tumbuh lagi.  Berkaca dari itu, saya i...

Selamat datang di blog saya, Cerita Hudaifi

Selamat datang di blog saya: Cerita Hudaifi Blog ini lahir dari kegelisahan sederhana: terlalu banyak cerita di kepala, tapi memori HP penuh. Jadi, saya pindahkan ke sini. Saya seorang penulis. Kadang serius, kadang lebay. Kadang juga nulis sambil rebahan, karena konon ide bagus suka datang pas badan malas bergerak. Saya juga seorang minimalis. Jangan salah paham. Minimalis bukan berarti dompet tipis. Beda. Minimalis itu seni punya barang secukupnya, biar hidup nggak ribet. Walau, ya, dompet tipis kadang memang ikut mendukung gaya hidup ini. Dan ya, saya suka curhat. Kalau orang lain curhat di status WhatsApp, saya pilih curhat di blog. Lebih lega. Lebih panjang. Lebih bisa dihapus kalau malu. Isi blog ini? Campur-campur. Ada cerita sehari-hari. Ada renungan hidup. Ada humor receh. Semua ditulis dengan gaya santai, seolah-olah kita lagi ngobrol sambil ngopi. Jadi, kalau Anda betah di sini, anggap saja kita sudah teman lama. Kalau tidak betah… ya, jangan pergi dulu. Siapa tahu besok say...

Duka Al Khoziny duka semua pesantren

 Sudah seminggu lebih evakuasi korban robohnya musholla di Ponpes Al Khoziny Buduran Sidoarjo . Sudah banyak korban. Sudah banyak tangisan. Pun banyak pula pihak yang menyalahkan. Bagi santri , musibah ini adalah duka bersama. Bukan hanya duka korban, pengasuh, pengurus pesantren Ponpes Al Khoziny, tetapi duka semua pesantren seluruh Indonesia.  Dalam kultur pesantren , semua santri adalah saudara. Tidak melihat dari mana asal mereka, atau status sosial mereka. Ketika saya bertemu orang yang bersarung di mana saja, saya seringkali bertanya, santri mana? Suasana langsung cair, dan keasingan berubah menjadi keakraban ketika tau dia adalah santri. Apalagi santri dari pondok pesantren yang sama. Lalu kami mengajak ngobrol basa-basi ala pesantren. Kadang guyon. Dan itulah khas kami sebagai santri.  Ketika santri Ponpes Al Khoziny mengalami musibah besar, maka betapa hati ini ikut hancur. Kasihan mereka yang menjadi korban. Kasihan keluarga korban. Kasihan pengasuhnya juga, ya...