Sudah seminggu lebih evakuasi korban robohnya musholla di Ponpes Al Khoziny Buduran Sidoarjo . Sudah banyak korban. Sudah banyak tangisan. Pun banyak pula pihak yang menyalahkan. Bagi santri , musibah ini adalah duka bersama. Bukan hanya duka korban, pengasuh, pengurus pesantren Ponpes Al Khoziny, tetapi duka semua pesantren seluruh Indonesia. Dalam kultur pesantren , semua santri adalah saudara. Tidak melihat dari mana asal mereka, atau status sosial mereka. Ketika saya bertemu orang yang bersarung di mana saja, saya seringkali bertanya, santri mana? Suasana langsung cair, dan keasingan berubah menjadi keakraban ketika tau dia adalah santri. Apalagi santri dari pondok pesantren yang sama. Lalu kami mengajak ngobrol basa-basi ala pesantren. Kadang guyon. Dan itulah khas kami sebagai santri. Ketika santri Ponpes Al Khoziny mengalami musibah besar, maka betapa hati ini ikut hancur. Kasihan mereka yang menjadi korban. Kasihan keluarga korban. Kasihan pengasuhnya juga, ya...
Setiap menit adalah kenangan. Ketika saya melakukan sesuatu yang sepertinya tidak memiliki nilai apa-apa, tindakan ini adalah kenangan. Misalnya saya makan. Sepertinya makanannya terlalu asin, karena saya memberinya garam berlebihan. Ini akan menjadi kenangan, sejarah kecil agar saya memperbaikinya jika saya harus masak lagi. Banyak sekali perilaku yang telah menjadi pelajaran sebenarnya, tetapi kita lupa mendokumentasikannya. Lupa menjelaskan apa yang salah. Akhirnya kesalahan terus berulang-ulang di masa yang akan datang. Maka, saya kira penting menuliskan pengalaman. Terutama pengalaman negatif. Agar jadi pelajaran berharga di masa ketika kita membutuhkan untuk memperbaiki diri. Orang Indonesia rata-rata adalah tidak mengerti literasi. Tidak banyak membaca, sehingga tidak bisa menuliskan kata-kata. Tidak banyak menulis, sehingga banyak kenangan hilang. Sungguh jika kenangan itu adalah kebiasaan harian, maka itu tidaklah masalah. Namun jika yang hilang adalah penemuan dari...